Duplexer
Duplexer merupakan bagian dari Base Transceiver Station (BTS). Fungsi
utama duplexer adalah untuk merutekan sinyal yang diterima dari antena ke receiver
dan merutekan sinyal high power Tx dari filter Tx ke antena, atau dengan kata lain,
sinyal yang datang dan yang meninggalkan antena diolah tanpa ada kebocoran saat
menerima dan mengirim sinyal, karena keduanya terjadi pada waktu yang bersamaan
.
Duplexer terdiri atas dua kopler hibrid dan dua Bandstop Filter. Pada kedua
kopler hibrid memiliki range frekuensi yang sama, yaitu 1920-2170 MHz, sedangkan
pada bandstop range frekuensinya antara 1920-1980 MHz.
Monday, 8 July 2013
MAKALAH ANTENA
BAB I
· KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah berkenan
memberi petunjuk dan kekuatan kepada penulis sehingga makalah, “Teknologi Informasi
dan Komunikasi” ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi – materi yang ada. Materi – materi bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa dalam belajar teknologi informasi dan komunikasi. Serta siswa juga dapat memahami nilai – nilai dasar yang direfleksikan dalam berpikir dan bertindak.
Mudah-mudahan dengan mempelajari makalah ini, para siswa akan mampu menghadapi masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang timbul dalam belajar Teknologi Infomasi dan Komunikasi. Dan dengan harapan semoga siswa mampu berinovasi dan berkreasi dengan potensi yang dimiliki,
Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi – materi yang ada. Materi – materi bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa dalam belajar teknologi informasi dan komunikasi. Serta siswa juga dapat memahami nilai – nilai dasar yang direfleksikan dalam berpikir dan bertindak.
Mudah-mudahan dengan mempelajari makalah ini, para siswa akan mampu menghadapi masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang timbul dalam belajar Teknologi Infomasi dan Komunikasi. Dan dengan harapan semoga siswa mampu berinovasi dan berkreasi dengan potensi yang dimiliki,
BAB II
· PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi merupakan
kebutuhan manusia yang sangat penting.
Komunikasi dibutuhkan
untuk memperoleh atau memberi informasi dari atau
kepada orang lain.
Kebutuhan untuk mendapatkan informasi semakin meningkat,
sehingga manusia
membutuhkan alat komunikasi yang dapat digunakan kapanpun
dan dimanapun mereka
berada.
Salah satu sistem
komunikasi yang merupakan andalan bagi
terselenggaranya
integrasi sistem telekomunikasi secara global adalah sistem
komunikasi nirkabel
(wireless) dimana propagasi gelombang elektromagnetik
(microwave) sebagai
media transmisinya. Semakin bertambahnya popularitas
sistem nirkabel,
pengembangan antena untuk sistem ini menjadi lebih penting.
Antena dianggap sebagai
tulang punggung sistem nirkabel. (Young, 2003)
Antena sangatlah penting
sebagai perangkat penyesuai (matching device)
antara sistem pemancar
dengan udara bila antena berfungsi sebagai media radiasi
gelombang radio dan
sebagai perangkat penyesuai dari udara ke sistem penerima.
Definisi antena menurut
IEEE Standart Definition of Term for Antennas
(IEEE Std 145 -1983)
adalah suatu alat untuk meradiasikan atau menerima
gelombang radio. Selain
sebagai alat untuk mengirim atau menerima energi,
antena juga digunakan
untuk mengoptimalkan energi radiasi pada arah tertentu
dan menekan pada arah
yang lain. Hal ini kemudian menyebabkan antena
memiliki berbagai bentuk
dan desain yang bemacam-macam untuk memenuhi
kebutuhan ini. Bentuk
dan desain antena yang diharapkan adalah antena yang
mempunyai gain yang
tinggi, efisiensi tinggi, bandwidth yang lebar bobot yang
ringan dan biaya yang
murah.
Penyesuaian kebutuhan
kondisi di lapangan dalam bentuk arah omni atau
point to point sangat
ditentukan oleh model struktur antena. Arah omni yaitu
radiasi power output
antena radial ke segala arah sama kuat. Sedangkan point to
point adalah pancaran
satu titik ke titik lain dalam jangkauan jarak yang lebih jauh
dari arah omni. Ini
terjadi karena pemusatan power output oleh struktur antena
kedalam satu arah saja.
Berbagai bentuk desain
antena telah banyak diteliti secara eksperimental
dan teori di
laboratorium Optoelektronika jurusan Fisika antara lain: Analisa
Respon Frekuensi Antena
Mikrostrip CPW dengan Simulasi FDTD (Indraswari,
D., dkk 2002), Analisa
Karakteristik Antena CPW Slot dan Patch dengan FDTD
(Sujarwati, N., dkk,
2002), Karakterisasi Filter Mikrostrip Low Pass dengan
Metode FDTD dan
Eksperimen (Rohmah, M.F, 2005), Pembuatan Filter
Mikrostrip Band Pass 2,4
Ghz dengan Struktur Satu Lapis (Sugiono, Pramono,
Y.H, 2006), dan Analisis
Gelombang Elektromagnetik pada Antena Mikrostrip
Dipole ½ .dengan Meode
FDTD (Riduwan, M., 2008).
Salah satu antena point
to point yang akan difabrikasi dan dikarakterisasi
adalah antena panel 10
larik mikrostrip double bi-quad dengan feeding CPW.
Proses fabrikasi dengan
memakai teknik yang sederhana namun tetap
mengindahkan teori matching
impedansi 50 ohm menyesuaikan impedansi kabel
dan karakter yang ada
dipasaran. Perancangan dengan menggunakan panjang sisisisi
bi-quad sebesar ¼ .
diharapkan memenuhi kondisi matching.
Setelah proses fabrikasi
selesai antena panel 10 larik mikrostrip double biquad
akan dikarakterisasi
yang meliputi S11, VSWR dan pola radiasi. S11 sangat
erat kaitannya dengan
jumlah daya yang dipancarkan dan dipantulkan kembali
pada kabel input. Secara
lebih detail bagaimana struktur antena panel 10 larik
mikrostrip double
bi-quad yang akan diteliti frekuensi kerja dan karakterisasinya
BAB III
· Penjelasan materi
sejarah perkembangan
Perkembangan teknologi
komunikasi antena
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas
Di era informasi , yang ditandai dengan
penyebaran berita yang sangat cepat, dan berita yang bisa diakses kapan dan
dari mana saja, pengiriman data secara nirkabel ( wireless, tanpa kabel ) menjadi
tulang punggung penyebaran informasi tersebut. Dengan komunikasi nirkabel,
tidak diperlukan lagi kabel yang menghubungkan sumber berita dengan pemakai
berita, sehingga hubungan komunikasi ini menjadi lebih fleksibel dan menunjang
mobilitas dari pengguna. Di samping elektronika telekomunikasi, seperti
modulator, osilator, dan lain – lain. Pada system komunikasi nirkabel
diperlukan komponen yang bernama antena. Secara definisi, antena pada sebuah
pemancar berfungsi sebagai pengubah gelombang yang tertuntun di rangkaian
elektronika menjadi gelombang yang merambat bebas di udara, dan sebaliknya pada
sebuah penerima. Tugas bagi perancang antena adalah membuat transisi ini
se-efisien mungkin, yaitu gelombang dari pemancar yang di hasilkan oleh
komponen – komponen elektronika ini harus diubah semaksimal mungkin menjadi
gelombang bebas. Gelombang yang dipancarkan melalui antena ini akan di
distribusikan ke udara dengan suatu pola tertentu, misalnya ke semua arah, atau
hanya ke suatu arah tertentu saja. Pemilihan pola pancar ini tergantung dari
aplikasi antena masing – masing.
Peristiwa
Heinrich Rudolf
Hertz (22
Februari 1857 - 1 Januari 1894) adalah fisikawan Jerman yang menemukan
pengiriman energi listrik dari 2 titik (point) tanpa kabel (nirkabel).
Penemuannya yang paling mutakhir adalah electric charge jump. Dia juga adalah
orang yang berjasa membuktikan teori Elektromagnetisme yang
ditemukan oleh Maxwell itu benar - benar ada. Dia juga adalah orang yang
membuat gelombang radio dan berhasil
memancarkannya. Heinrich Rudolf
Hertzadalah
orang yang menciptakan alat pemancar (transmitter), dan penerima sinyal
(reciever). DanHeinrich Rudolf
Hertzlah orang
yang menciptakan antena.
Pola - pola radiasi antena
Pola radiasi antena merupakan sebuah gambar grafik yang
melambangkan perangkat tradisi antena sebagai sebuah fungsi posisi pada
koordinat spheris (koordinat boal). Jenis – jenis umum pola radiasi antena
berupa pola daya yang menggambarkan normalisasi daya terhadap posisi koordinat
spheris.
·
Jenis – jenis medan antena
Medan Reaktif yang merupakan bagian karakteristik medan
antena akibat gelombang berdiri yang melambangkan energi yang tersimpan.
Medan Radiasi yang merupakan bagian karakteristik medan
antena akibat radiasi gelombang (propagasi) yang melambangkan energi di
pancarkan oleh antena.
·
Daerah – daerah medan antena
Daerah medan dekat reaktif yang merupakan daerah yang
berada disekitar antena dimana medan reaktif sangat dominan (energi tersimpan –
gelombang berdiri)
Daerah medan dekat Fresnel yang merupakan daerah antara
medan dekat reaktif dan medan jauh dimana radiasi medan sangat dominan dan distribusi
medan tergantung jarak dari antena.
Daerah medan jauh fraunhofer merupakan daerah paling jauh
dari antena dimana distribusi medan secara esensial berdiri sendiri dari jarak
antena sumber (propagasi gelombang).
JENIS-JENIS ANTENA
(OMNI, PARABOLIK, GRID, SEKTORAL)
Apakah Antena itu?
Secara sederhana, antena adalah alat untuk mengirim dan menerima gelombang
elektromagnetik, bergantung kepada pemakaian dan penggunaan frekuensinya,
antena bisa berwujud berbagai bentuk, mulai dari seutas kabel, dipole, ataupun
yagi, dsb. Antena adalah alat pasif tanpa catu daya(power), yang tidak bisa
meningkatkan kekuatan sinyal radio, dia seperti reflektor pada lampu senter,
membantu mengkonsentrasi dan memfokuskan sinyal.
Kekuatan dalam mengkonsentrasi dan memfokuskan sinyal radio, satuan ukurnya adalah dB. Jadi ketika dB bertambah, maka jangkauan jarak yang bisa ditempuhpun bertambah. Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akan kita bangun, juga disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran sinyalnya. Secara umum ada dua jenis antena yaitu :
1. Directional
2. Omni Directional
Fungsi
Fungsi antena adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, lalu meradiasikannya (Pelepasan energy elektromagnetik ke udara / ruang bebas). Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik (Penerima energy elektromagnetik dari ruang bebas ) dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Pada radar atau sistem komunikasi satelit, sering dijumpai sebuah antena yang melakukan kedua fungsi (peradiasi dan penerima) sekaligus. Namun, pada sebuah teleskop radio, antena hanya menjalankan fungsi penerima saja.
Karakter antena
Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu. Misalnya, David Welkinson (0806322514) ingin membeli antena maka untuk mendapatkan antena yang sesuai dengan fungsi yang dinginkan, ia harus memimilih antena dengan karakter yang sesuai dengan fungsi yang dia inginkan.
• Pola radiasi
Pola radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3-dimensi tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasiantena dibentuk oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu pola radiasi pada bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang irisan arah azimuth (pola azimuth).
Kedua pola di atas akan membentuk pola 3-dimensi. Pola radiasi 3-dimensi inilah yang umum disebut sebagai pola radiasi antena dipol. Sebuah antena yang meradiasikan sinyalnya sama besar ke segala arah disebut sebagai antena isotropis. Antena seperti ini akan memiliki pola radiasi berbentuk bola Namun, jika sebuah antena memiliki arah tertentu, di mana pada arah tersebut distribusi sinyalnya lebih besar dibandingkan pada arah lain, maka antena ini akan memiliki directivity Semakin spesifik arah distribusi sinyal oleh sebuah antena, maka directivity antena tersebut.
Antena dipol termasuk non-directive antenna. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas. Pada astronomi radio, antena dipol digunakan pada teleskop radio untuk melakukan pengamatan pada rentang High Frekuensi (HF). Bentuk data yang dapat diperoleh adalah variabilitas intensitas sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi. Namun, karena antena dipol tidak memiliki directivity pada arah tertentu, teleskop radio elemen tunggal yang menggunakan antena jenis ini tidak dapat digunakan untuk melakukan pencitraan.
• Gain
Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel.
• Polarisasi
Polarisasi didefinisikan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal . Mengenali polarisasi antena amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pola radiasi, yang pertama adalah Half-power Beamwidth (HPBW), atau yang biasa dikenal sebagai beanwidth suatu antena. Dalam astronomi radio, beamwidth adalah resolusi spasial dari sebuah teleskop radio, yaitu diameter sudut minimun dari dua buah titik yang mampu dipisahkan oleh teleskop radio tersebut. Secara teori, beamwidth untuk antena yang berbentuk parabola dapat ditentukan.
Antena Directional
Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, antena directional mengirim dan menerima sinyal radio hanya pada satu arah, umumnya pada fokus yang sangat sempit, dan biasanya digunakan untuk koneksi point to point, atau multiple point, macam antena direktional seperti antena grid, dish “parabolic”, yagi, dan antena sectoral.
Antena Omni-Directional
Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 3600; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak dianjurkan pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas se-hingga ada kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan inter-ferensi. antena omnidirectional mengirim atau menerima sinyal radio dari semua arah secara sama, biasanya digunakan untuk koneksi multiple point atau hotspot.
Type Antena
1. Antena Omnidirectional
1.jpg
Sebuah antena Omnidirectional adalah antena daya sistem yang memancar secara seragam dalam satu pesawat dengan bentuk pola arahan dalam bidang tegak lurus. This pattern is often described as “donut shaped”. Pola ini sering digambarkan sebagai “donat berbentuk”. Omnidirectional antenna can be used to link multiple directional antenna in outdoor point-to-multipoint communication systems including cellular phone connections and TV broadcasts. Antena Omnidirectional dapat digunakan untuk menghubungkan beberapa antena directional di outdoor point-to-multipoint komunikasi systems termasuk sambungan telepon selular dan siaran TV.
Antena omni mempunyai sifat umum radiasi atau pancaran sinyal 360-derajat yang tegak lurus ke atas. Omnidirectional antena secara normal mempunyai gain sekitar 3-12 dBi. Yang digunakan untuk hubungan Point-To-Multi-Point ( P2Mp) atau stu titik ke banyak titik di sekitar daerah pancaran. Yang baik bekerja dari jarak 1-5 km, akan menguntungkan jika client atau penerima menggunalan directional antenna atau antenna yang ter arah.Yang ditunjukkan di bawah adalah pola pancaran khas RFDG 140 omnidirectional antena. Radiasi yang horisontal dengan pancaran 360-derjat. Radiasi yang horisontal pada dasarnya E-Field.yang berbeda dengan, polarisasi yang vertikal adalah sangat membatasi potongan sinyal yang di pancarkan. Antena ini akan melayani atau hanya memberi pancaran sinyal pada sekelilingnya atau 360 derjat, sedamgkan pada bagian atas antena tidak memiliki sinyal radiasi.
Pola radiasi dari antenna Omni
2. Antena Grid
Antena ini merupakan salah satu antena wifi yang populer. Sudut pola pancaran antena ini lebih fokus pada titik tertentu sesuai pemasangannya.
3. Antena Parabolik
– Dipakai untuk jarak menengah atau jarak jauh
– Gain-nya bisa antar
Kelebihan antenna parabola
Dapat digunakan untuk menerima 3 satellite sekaligus tanpa harus menggerakkan antenna.
Dapat menampilkan gambar dari semua TV dari satelit yang ditangkap dalam sekejap.
Kondisi permanent sehingga tidak gampang goyah terhadap posisi.
Signal quality dapat maksimum
Kekurangan antenna parabola
Tidak dapat digunakan menangkap satelit lebih dari 5
Membutuhkan lebih banyak LNBF
Channel yang diterima lebih sedikit
4. Antena Sectoral
Antena Sectoral hampir mirip dengan antena omnidirectional. Yang juga digunakan untuk Access Point to serve a Point-to-Multi-Point (P2MP) links. Beberapa antenna sectoral dibuat tegak lurus , dan ada juga yang horizontal.
Antena sectoral mempunyai gain jauh lebih tinggi dibanding omnidirectional antena di sekitar 10-19 dBi. Yang bekerja pada jarak atau area 6-8 km. Sudut pancaran antenna ini adalah 45-180 derajat dan tingkat ketinggian pemasangannya harus diperhatikan agar tidak terdapat kerugian dalam penangkapan sinya
Pola pancaran yang horisontal kebanyakan memancar ke arah mana antenna ini di arahkan sesuai dengan jangkauan dari derajat pancarannya, sedangkan pada bagian belakang antenna tidak memiliki sinyal pancaran.
Antenna sectoral ini jika di pasang lebih tinggi akan menguntungkan penerimaan yang baik pada suatu sector atau wilayah pancaran yang telah di tentukan.
Kekuatan dalam mengkonsentrasi dan memfokuskan sinyal radio, satuan ukurnya adalah dB. Jadi ketika dB bertambah, maka jangkauan jarak yang bisa ditempuhpun bertambah. Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akan kita bangun, juga disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran sinyalnya. Secara umum ada dua jenis antena yaitu :
1. Directional
2. Omni Directional
Fungsi
Fungsi antena adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, lalu meradiasikannya (Pelepasan energy elektromagnetik ke udara / ruang bebas). Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik (Penerima energy elektromagnetik dari ruang bebas ) dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Pada radar atau sistem komunikasi satelit, sering dijumpai sebuah antena yang melakukan kedua fungsi (peradiasi dan penerima) sekaligus. Namun, pada sebuah teleskop radio, antena hanya menjalankan fungsi penerima saja.
Karakter antena
Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu. Misalnya, David Welkinson (0806322514) ingin membeli antena maka untuk mendapatkan antena yang sesuai dengan fungsi yang dinginkan, ia harus memimilih antena dengan karakter yang sesuai dengan fungsi yang dia inginkan.
• Pola radiasi
Pola radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3-dimensi tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasiantena dibentuk oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu pola radiasi pada bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang irisan arah azimuth (pola azimuth).
Kedua pola di atas akan membentuk pola 3-dimensi. Pola radiasi 3-dimensi inilah yang umum disebut sebagai pola radiasi antena dipol. Sebuah antena yang meradiasikan sinyalnya sama besar ke segala arah disebut sebagai antena isotropis. Antena seperti ini akan memiliki pola radiasi berbentuk bola Namun, jika sebuah antena memiliki arah tertentu, di mana pada arah tersebut distribusi sinyalnya lebih besar dibandingkan pada arah lain, maka antena ini akan memiliki directivity Semakin spesifik arah distribusi sinyal oleh sebuah antena, maka directivity antena tersebut.
Antena dipol termasuk non-directive antenna. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas. Pada astronomi radio, antena dipol digunakan pada teleskop radio untuk melakukan pengamatan pada rentang High Frekuensi (HF). Bentuk data yang dapat diperoleh adalah variabilitas intensitas sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi. Namun, karena antena dipol tidak memiliki directivity pada arah tertentu, teleskop radio elemen tunggal yang menggunakan antena jenis ini tidak dapat digunakan untuk melakukan pencitraan.
• Gain
Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel.
• Polarisasi
Polarisasi didefinisikan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal . Mengenali polarisasi antena amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pola radiasi, yang pertama adalah Half-power Beamwidth (HPBW), atau yang biasa dikenal sebagai beanwidth suatu antena. Dalam astronomi radio, beamwidth adalah resolusi spasial dari sebuah teleskop radio, yaitu diameter sudut minimun dari dua buah titik yang mampu dipisahkan oleh teleskop radio tersebut. Secara teori, beamwidth untuk antena yang berbentuk parabola dapat ditentukan.
Antena Directional
Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, antena directional mengirim dan menerima sinyal radio hanya pada satu arah, umumnya pada fokus yang sangat sempit, dan biasanya digunakan untuk koneksi point to point, atau multiple point, macam antena direktional seperti antena grid, dish “parabolic”, yagi, dan antena sectoral.
Antena Omni-Directional
Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 3600; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak dianjurkan pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas se-hingga ada kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan inter-ferensi. antena omnidirectional mengirim atau menerima sinyal radio dari semua arah secara sama, biasanya digunakan untuk koneksi multiple point atau hotspot.
Type Antena
1. Antena Omnidirectional
1.jpg
Sebuah antena Omnidirectional adalah antena daya sistem yang memancar secara seragam dalam satu pesawat dengan bentuk pola arahan dalam bidang tegak lurus. This pattern is often described as “donut shaped”. Pola ini sering digambarkan sebagai “donat berbentuk”. Omnidirectional antenna can be used to link multiple directional antenna in outdoor point-to-multipoint communication systems including cellular phone connections and TV broadcasts. Antena Omnidirectional dapat digunakan untuk menghubungkan beberapa antena directional di outdoor point-to-multipoint komunikasi systems termasuk sambungan telepon selular dan siaran TV.
Antena omni mempunyai sifat umum radiasi atau pancaran sinyal 360-derajat yang tegak lurus ke atas. Omnidirectional antena secara normal mempunyai gain sekitar 3-12 dBi. Yang digunakan untuk hubungan Point-To-Multi-Point ( P2Mp) atau stu titik ke banyak titik di sekitar daerah pancaran. Yang baik bekerja dari jarak 1-5 km, akan menguntungkan jika client atau penerima menggunalan directional antenna atau antenna yang ter arah.Yang ditunjukkan di bawah adalah pola pancaran khas RFDG 140 omnidirectional antena. Radiasi yang horisontal dengan pancaran 360-derjat. Radiasi yang horisontal pada dasarnya E-Field.yang berbeda dengan, polarisasi yang vertikal adalah sangat membatasi potongan sinyal yang di pancarkan. Antena ini akan melayani atau hanya memberi pancaran sinyal pada sekelilingnya atau 360 derjat, sedamgkan pada bagian atas antena tidak memiliki sinyal radiasi.
Pola radiasi dari antenna Omni
2. Antena Grid
Antena ini merupakan salah satu antena wifi yang populer. Sudut pola pancaran antena ini lebih fokus pada titik tertentu sesuai pemasangannya.
3. Antena Parabolik
– Dipakai untuk jarak menengah atau jarak jauh
– Gain-nya bisa antar
Kelebihan antenna parabola
Dapat digunakan untuk menerima 3 satellite sekaligus tanpa harus menggerakkan antenna.
Dapat menampilkan gambar dari semua TV dari satelit yang ditangkap dalam sekejap.
Kondisi permanent sehingga tidak gampang goyah terhadap posisi.
Signal quality dapat maksimum
Kekurangan antenna parabola
Tidak dapat digunakan menangkap satelit lebih dari 5
Membutuhkan lebih banyak LNBF
Channel yang diterima lebih sedikit
4. Antena Sectoral
Antena Sectoral hampir mirip dengan antena omnidirectional. Yang juga digunakan untuk Access Point to serve a Point-to-Multi-Point (P2MP) links. Beberapa antenna sectoral dibuat tegak lurus , dan ada juga yang horizontal.
Antena sectoral mempunyai gain jauh lebih tinggi dibanding omnidirectional antena di sekitar 10-19 dBi. Yang bekerja pada jarak atau area 6-8 km. Sudut pancaran antenna ini adalah 45-180 derajat dan tingkat ketinggian pemasangannya harus diperhatikan agar tidak terdapat kerugian dalam penangkapan sinya
Pola pancaran yang horisontal kebanyakan memancar ke arah mana antenna ini di arahkan sesuai dengan jangkauan dari derajat pancarannya, sedangkan pada bagian belakang antenna tidak memiliki sinyal pancaran.
Antenna sectoral ini jika di pasang lebih tinggi akan menguntungkan penerimaan yang baik pada suatu sector atau wilayah pancaran yang telah di tentukan.
ANTENA DIRECTIONAL
Sebuah antena adalah bagian vital dari suatu pemancar atau penerima yang berfungsi untuk menyalurkan sinyal radio ke udara.Bentuk antena bermacam macam sesuai dengan desain,pola penyebaran dan frekuensi dan gain. Panjang antenna secara efektif adalah panjang gelombang frekuensi radio yang dipancarkannya.Antenna setengah gelombang adalah sangat poluler karena mudah dibuat dan mampu memancarkan gelombang radio Antenna Directional adalah antenna yang pola radiasi pancarannya terarah sehingga efektifitas pancaran radio hanya ke satu arah sajaecara efektif.
Sebuah antena directional atau berkas adalah sebuah antena yang meradiasikan kekuatan yang lebih besar dalam satu atau lebih petunjuk yang memungkinkan untuk meningkatkan performa pada mengirim dan menerima dan mengurangi campur tangan dari sumber-sumber yang tidak diinginkan.
Directional antena seperti antena yagi menyediakan peningkatan kinerja antena dipol ketika konsentrasi yang lebih besar radiasi dalam arah tertentu yang diinginkan.
Semua antena praktis setidaknya agak terarah, walaupun biasanya hanya arah di pesawat sejajar dengan bumi dianggap, dan praktis dapat dengan mudah antena Omnidirectional dalam satu pesawat.
Jenis yang paling umum adalah antena Yagi, dengan log-periodik antena, dan sudut reflektor, yang sering digabungkan dan dijual sebagai hunian komersial antena TV. Seluler repeater sering memanfaatkan arah antena eksternal untuk memberikan sinyal yang jauh lebih besar daripada yang dapat diperoleh pada standar ponsel.
Untuk panjang dan menengah panjang gelombang frekuensi, menara array digunakan dalam kebanyakan kasus sebagai antena directional.
contoh antena yagi:
TEORI DASAR VOR
RADIO AIDS NAVIGATION (RAN)
1. TEORI
DASAR VOR
VOR (OMNIDIRECTION RADIO RANGE),Navigasi
dapat didefinisikan sebagai tuntunan untuk melakukan perjalanan dari satu
tempat ke tempat yang lain dengan jalur / route yang aman. Walaupun demikian,
ketika kita bernavigasi kita tidak hanya menentukan posisi, tetapi juga
menentukan bagaimana cara melakukannya.
Navigasi berasal dari bahasa latin yaitu navis yang berarti
kapal dan agere yang berarti bergerak.
Navigasi udara dapat didefinisikan sebagai ilmu
atau peralatan untuk menentukan pesawat terbang dalam melakukan penerbangan
hingga sampai tujuan dengan selamat.Navigasi udara ada juga yang menyebut
sebagai fase-fase dalam jalur penerbangan. ]
Gambar 1.
Image of air navigation
Ada
beberapa cara yang dapat dijadikan pokok untuk bernavigasi yaitu:
1.
Calestial navigation ( navigasi angkasa)
yaitu cara bernavigasi dengan menentukan
/ memperhitungkan letak benda-benda langit seperti letak / posisi
bintang-bintang, bulan, planet-planet dan matahari. Cara bernavigasi semacam
ini adalah cara bernavigasi paling kuno. Alat yang digunakan untuk menentukan
letak benda-benda tersebut adalah sextant, yaitu perhitungan dengan cara
prinsip Triangle geometri yaitu mengukur sudut antar posisi benda.
2.
Piloting navigation yaitu cara bernavigasi dengan menentukan
posisi dengan acuan pada tanda-tanda yang umum dan tetap dipermukaan bumi,
misalnya gunung-gunung, pantai, danau, sungai atau tampat-tempat yang
menentukan letal geografis tertentu.
3.
Dead recoqning yaitu cara bernavigasi
dengan menentukan posisi dengan menentukan / memperhitungkan arah angin,
kecepatan dan jarak tempuh.
4.
Radio navigation yaitu cara bernavigasi
dengan menggunakan peralatan radio elektromagnetik dengan mengukur waktu tempuh
/ jarak / posisi berdasarkan signal yang
diterima dari gelombang radio tersebut
yang dipancarkan oleh stasiun-stasiun pemancar navigasi.
Radio navigasi dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu:
Ø Active radio navigation yaitu sistem navigasi yang menggunakan
dua system dari kedua belah pihak untuk berkomunikasi yaitu pemancar dan
penerima, contohnya peralatan DME dan RADAR.
Ø Passive radio navigation yaitu system navigasi yang hanya
menggunakan satu system dari masing-masing pihak yaitu pemancar atau penerima
saja, contohnya peralatan VOR, ILS, NDB, GPS dll.
2. PRINSIP DASAR SISTEM
VOR
VOR adalah peralatan
bantu navigasi udara yang bekerja pada frekuensi 108 – 118 MHz dan berfungsi
untuk memberikan sinyal panduan kesegala arah dengan azimuth dari 0 sampai 360
derajat, terhadap lokasi stasiun VOR.
Karena VOR bekerja pada
frekuensi VHF, maka jangkauan peralatan ini sangat ditentukan atau terbatas oleh
“line of sight” , oleh sebab itu VOR sebagai alat bantu navigasi jarak
pendek yaitu maksimum ±200 nm pada ketinggian 35.000 feet.
VOR dapat digunakan sebagai
alat bantu navigasi untuk Enroute (lalu
lintas udara) dan Terminal/ Approach (pendekatan).
Lihat VOR types dan phases
of flight dibawah.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
* All altitudes AGL
|
Penempatan fasilitas VOR
menentukan rute lalu lintas udara, bila VOR terletak disekitar airport maka tidak hanya akan memberi informasi
arah/azimuth untuk penedekatan kea rah landasan tetapi juga dapat member informasi
arah/azimuth untuk pesawat-pesawat yang melalui rute lalu lintas udara diatas
VOR / bandara tersebut.
Supaya VOR dapat member
panduan arah /azimuth kepada pesawat terbang sepanjang rute lalu lintas udara,
maka harus dipasang beberapa VOR karena jangkauan VOR yang terbatas. Karena
signal VOR dapat dipengaruhi oleh factor refleksi daerah sekitarnya, sehingga
dapat mengganggu akurasi signal VOR, karena itu penentuan lokasi adalah penting
dan untuk mengurangi kerugian pancaran signal yang disebabkan oleh refleksi
tersebut maka dipasanglah DVOR.
DVOR mempunyai unjuk hasil
azimuth yang lebih akurat pada lokasi-lokasi dimana VOR Conventional (CVOR)
memberikan unjuk kerja yang kurang akurat.
3.
PRINSIP DASAR VOR
VOR
terdiri dari VHF Transmitter, Antenna, Monitor dan Kontrol. VOR biasanya
beroperasi bersama dalam satu gedung/shelter dengan DME (Distance Measurement
Equipment) dengan maksud untuk memberikan informasi arah/azimuth (VOR) sekalian jarak (DME) kepada penerbang, juga
dapat digunakan prosedur operasi bersama-sama ILS (Instrument Landing System).
VOR memancarkan signal
radio frekuensi omni direrctional (kesegala arah) dan signalnya memberikan
informasi azimuth dari 0 sampai 360 derajat. Dengan memilih chanel frekuensi
VOR, penerbang akan mendapat arah/azimuth “TO” kearah stasiun VOR atau “FROM”
dari/meninggalkan stasiun VOR dan apa bila terbang tepat diatas stasiun VOR,
maka pesawat tersebut tidak menerima signal VOR karena melalui “Cone of
Silence” (daerah kertucut tanpa signal radio), dan setiap stasiun VOR mempunyai
kode identifikasi yang dipancarkan dengan kode morse.
VOR memancarkan signal yang
terdiri dari dua komponen modulasi signal 30 hz yang terpisah. Dengan
membandingkan fase ke dua signal 30 hz ini, maka akan mendapatkan posisi
azimuth pesawat terhadap lokasi VOR, beda fase ke dua signal 30 hz akan berubah
sesuai dengan posisi pesawat terhadap lokasi VOR yang dipilih.
Satu dari dua komponen
signal 30 hz tersebut dinamakan “REFERENCE” signal dan 30 hz signal yang lainya
dinamakan “VARIABLE” signal.
Signal 30 hz Reference
dipancarkan ke segala arah (omni directional) dengan fase sesaat
(instanstaneous phase) disekeliling VOR yang sama pada setiap azimuth dari 0
sampai 360 derajat. Sinyal 30 hz variable didapat dari modulasi yang terjadi di ruang udara yang
dihasilkan oleh pancaran directional patern RF yang diputar dengan fase yang berbeda di setiap azimuth.
Fase antara 30 hz Reference dan 30 hz Variable signal dapat
diatur dan pada arah utara magnit (azimuth = 0), fase diatur sedemikian rupa sehingga 30 hz
Reference dan Variable mempunyai fase yang sama. Karena itu pesawat mendapat
posisi azimuth yang sesuai dengan cara mendeteksi perbedaan fase kedua signal
30 hz tersebut untuk posisi segala arah terhadap VOR.
Karena Reference dan
Variable keduanya merupakan frekuensi modulasi yang sama yaitu 30 hz, maka
timbul masalah bagaimana memancarkan dan menerima kedua signal pada frekuensi
Carrier yang sam pula. Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara salah satu
dari 30 hz signal dipancarkan dengan system modulasi 30 hz FM pada Sub Carrier,
sedangkan 30 hz yang lainya dipancarkan dengan system modulasi 30 hz AM pada RF
Carrier.
Ke dua signal 30 hz AM dan
30 hz FM akan dipisah didalam receiver pesawat oleh filter yang selanjutnya
masuk ke circuit phase detector untuk diproses menjadi informasi arah/bearing.
4. PENJELASAN DOPPLER VOR (DVOR)
Telah diketahui bahwa
didalam sitem VOR mempunyai signal 30 hz Reference dan signal 30 hz Variable
yaitu :
a.
Signal Reference (30 hz AM) dipancarkan oleh Carrier
(Fc) yang dimodulasi dengan signal 30 hz secara AM.
b.
Signal Variable (30 hz FM) dihasilkan dengan cara
simulasi pemindahan/perputaran sumber signal Carrier (Fc ± 9960) disekeliling
lingkaran dengan radius 44 ft (13,4 m) pada kecepatan 1800 rpm (30 hz). hal ini
dikerjakan dengan switching elektronik secara berurutan pada setiap antenna
yang terdiri dari 48 buah antenna yang terletak disekeliling lingkaran Counter
Poise. Deviasi frekuensi yang dihasilkan dari frekuensi yang dipancarkan (Fc ±
9960 hz) tersebut sebanding dengan radius dan kecepatan putar.
Kombinasi sinyal REFERENCE dan VARIABLE yang dipancarkan ke
udara akan menghasilkan frekuensi carrier yang dimodulasi AM oleh 9960 Hz (sub-carrier), dan selanjutnya 9960 Hz
sub-carrier termodulasi oleh 30Hz FM
karena efek Doppler.
Dengan demikian hasil pancaran DVOR untuk modulasi diudara
dari sinyal-sinyal tersebut adalah
identik dengan hasil sinyal yang dipancarkan oleh VOR konvensionil.
1.4
PRINSIP DOPPLER
Bila sumber suara bergerak terhadap suatu pengamat
akan terjadi perobahan frekuensi.
Apabila
sumber suara bergerak mendekati pengamat, maka frekuensi suara yang yang
diterima akan naik/bertambah. Dan apabila sumber suara bergerak menjauhi
pengamat,frekuensi suara yang diterima
akan berkurang.
Apabila
sumber suara digerakan mendekat dan menjauhi pengamat secara bergantian,
frekuensi suara yang diterima akan bertambah atau berkurang, dan akan terjadi
“Frekuensi Modulated” (FM). Perubahan frekuensi tergantung dari cepatnya
pergantian arah sumber suara terhadap pengamat ( mendekat dan menjauh ). Efek
Doppler ini diaplikasikan pada pancaran RF carrier pada DVOR, untuk mendapatkan
sinyal 30 Hz FM.
Seperti
diketahui bahwa sinyal AM ( Amplitude Modulation ) rentan terhadap sinyal
interferensi, sedangkan sinyal FM ( Frequency Modulation ) lebih baik.
Sinyal Variable dalam VOR
konvensional adalah 30 Hz AM dan oleh
karena itu rentan terhadap sinyal interferensi
dan refleksi.
Tetapi
pada DVOR posisi modulasi 30 Hz dibalik,
dengan membuat sinyal VARIABLE menjadi 30Hz FM , hal ini sangat mengurangi
interferensi terhadap pancaran sinyal DVOR. Jadi dalam Doppler VOR , sinyal VARIABLE dipancarkan sebagai 30Hz FM
pada Sub-Carrier 9960 Hz, sedangkan sinyal REFERENCE dipancarkan sebagai 30 Hz
AM pada Frekuensi Carrier.
1.5
TEORI DVOR
Sinyal
VARIABLE dari DVOR dihasilkan dengan cara simulasi perpindahan / perputaran
sumber RF yang non-directional pada sekeliling lingkaran dengan diameter 44
feet , dengan kecepatan putar 30 Hz.
Cara
ini dilaksanakan dengan memberikan
energy RF secara bergantian dan berurutan pada sejumlah antenna (jumlah
48 antena sideband).
Untuk
menyederhanakan pengertian , umpamakan suatu antenna dipasang dengan jari-jari
lengan sepanjang 22 ft dan diputar secara mekanikal dengan kecepatan putar 30
Hz ( 1800 rpm ) .
Maka
kecepatan putar pada antenna adalah :
V = ωr
V = 2π
x 30 x 22
V =
4146.9 feet per second ( 1263.9 meter per second ) .
Pada gambar 1, Antenna memancarkan gelombang radio RF ( tidak termodulasi ) pada frekuensi “ f ” .
Dari gambar 1 itu dapat dilihat, bila antenna berputar maka frekuensi “ f “ yang diterima pesawat akan berubah
sesuai dengan kecepatan dan posisi antenna terhadap posisi pesawat. Umpamakan
posisi antenna pada titik E , tidak berubah terhadap pesawat , maka pesawat
menerima frekuensi “ f “ .
N
Bila
Antena pada N,
Pesawat menerima f - Δf
antena
S
Ketika
antena berputar menuju titik N , kecepatannya terhadap pesawat merupakan fungsi
Sinus dan mencapai maximum kecepatan pada titik N karena antenna bergerak
menjauhi pesawat pada kecepatan maximum, frekuensi yang diterima oleh pesawat
berkurang dari “ f “ , karena Efek Doppler dan menjadi “ f – Δf “ .
Pada
titik W , posisi antenna W tetap lagi terhadap pesawat , dan pesawat menerima
frekuensi “ f “ . Pada titik S antena berputar mendekati pesawat dengan
kecepatan maximum , dengan begitu frekuensi yang diterima pesawat adalah “ f +
Δf “
Jadi
frekuensi RF yang diterima pesawat adalah :
f + Δf sin ф
f =
Frekuensi yang dipancarkan antenna.
Δf =
Perubahan Frekuensi yang diterima
pesawat.
Ф = Azimuth antena sesaat terhadap posisi
pesawat.
Perubahan
frekuensi ( Δf ) maximum bila :
Δf = V / λ
V =
kecepatan
λ
= wavelength ( m ) λ = C/f
Pada f
= 115 MHz λ
= 8,56 ft ( 2.6 m )
Jadi Δf
= 4146.9/8.56 = 484 Hz.
Salah
satu persyaratan sinyal VARIABLE adalah fasenya berubah pada setiap azimuth ,
sebanding dengan perobahan posisi azimuth penerima. Persyaratan ini dipenuhi
oleh system Efek Doppler diatas .
Umpamakan
4 pesawat pada posisi radial Utara, Selatan, Timur dan Barat, dan pada sesaat
posisi antenna ada di Utara , maka pesawat posisi radial utara menerima
frekuensi = f, pada saat yang sama pesawat posisi Barat menerima frekuensi = f
+ Δf ( sumber frekuensi bergerak
mendekati pesawat / penerima ) , pesawat posisi radial Selatan menerima frekuensi
= f dan
posisi pewawat di Timur menerima frekuensi = f – Δf. Bila perubahan frekuensi ini ( Sinyal FM )
dideteksi oleh penerima pesawat akan menghasilkan 30 Hz dengan fase yang
berbeda , sesuai dengan posisi azimuth pesawat.
1.6
SISTEM SINGLE SIDEBAND
Pada
versi Sistem Single Sideband, frekuensi carrier dari Sinyal VARIABLE berbeda
9960 Hz dengan frekuensi carrier dari Sinyal REFERENCE .
Frekuensi
carrier dari VARIABLE dipancarkan bergantian dan berurutan pada setiap antenna
sekeliling lingkaran (Sideband antena) dan menghasilkan Sinyal seperti
penjelasan diatas . Namun timbul kesalahan – kesalahan pada Sistem Single
Sideband ini , karena menghasilkan dua sudut ( azimuth ) yang kritis yaitu satu
pada saat antenna yang memancar ada pada posisi yang paling dekat dengan
pesawat dan kedua pada saat antenna yang memancar pada posisi yang paling jauh
dengan pesawat.
1.7 SISTEM
DOUBLE SIDEBAND
Untuk
mengatasi masalah tersebut diatas dikembangkan Sistem Double Sideband. Dua
sinyal RF dipancarkan melalui jajaran antenna yaitu satu sinyal RF adalah Fc +
9960 hz (upper sideband) dan yang lainya Fc – 9960 hz (lower sideband).
Pasangan
upper dan lower sideband ini dipancarkan secara berurutan pada setiap antenna
sideband yang berlawanan posisinya dimana hal ini untuk mengatasi
masalah-masalah pada system single sideband tersebut.
Untuk
menjaga perbedaan frekuensi Carrier dengan
frekuensi sideband dan phasing yang stabil (konstan), pada system double
sideband menjadi lebih kritis dari pada system single sideband. Untuk mengatasi
hal tersebut maka digunakan sirkuit phase locking.
1.8
ANTENNA DISTRIBUTION
Bila
jajaran antena diberi RF energy secara berurutan, yang catu tegangan pada satu
antenna menurun, dan catu tegangan ke antenna berikutnya naik dan begitu
seterusnya, adalah tidak mungkin membuat distributor yang akan memberikan RF
energy yang berfungsi sinus murni pada satu antenna ke antenna berikutnya, guna
mentransfer energy RF yang rata.
Pada
DVOR hal ini dilaksanakan dengan RF energy yang berfungsi “Blanding” pada “ODD”
dan “EVEN” sideband, untuk dicatukan kesetiap antenna secara bergantian, untuk
mentransfer RF energy yang rata.
Pada
DVOR ada 4 (empat) sideband yaitu :
Upper Sideband fungsi sin
Upper Sideband fungsi cos
Lower Sideband fungsi sin
Lower Sideband fungsi cos
5.
PERALATAN DI
PESAWAT
a. PENERIMA
Penerima
dipesawat biasanya menggunakan double superheterodyne dan digunakan sebagai
penerima VOR atau ILS, dengan memilih frekuensi pada tombol control unit.
Prinsip
kerja yaitu signal RF diterima, diperkuat dan diteruskan ke Mixer untuk
mendapatkan frekuensi IF. Filter 9960 hz menyaring dan meneruskan sinyal FM dan
menghilangkan signal AM dan Audio. Selanjutnya signal 9960 hz diperkuat dan
dideteksi untuk mendapatkan signal 30 hz FM.
Sedangkan
filter 30 hz AM menyaring dan meneruskan signal 30 hz dan menghilangkan signal
9960 hz dan Audio. Output dari sirkuit ini sebanding dengan perbedaan fase
antara 30 hz FM dan 30 hz AM, dan selanjutnya signal diteruskan ke deviation
indicator. Sedangkan antenna dari penerima ini terletak di ekor dari pesawat.
b. OMNI BEARING SELECTOR (OBS)
Pada
OBS (perlengkapan Avionik) dapat memilih bearing dan akan diperagakan 3 (tiga)
digit pada indicator bearing. Pada OBS dilengkapi dengan indicator TO dan FROM,
untuk menunjukan bearing yang dipilih MENUJU atau DARI VOR
c. DEVIATION INDICATOR
Untuk
menunjukan POSISI pesawat tepat terbang pada bearing yang dipilih, maka jarum
bearing indicator tepat tetap diposisi tengah. Bila terbang ke kanan / ke kiri
dari bearing yang dipilih, jarum indicator akan menunjuk kearah kanan / kiri
dari garis tengah indicator y6ang menunjukan bahwa pesawat harus diterbangkan
ke posisi bearing yang tepat.
Subscribe to:
Posts (Atom)